| Dialog Orang Tua dan Anak Bersama Kak Seto |
|
|
Gema tarian Ketjak Anak-anak membahana di ruangan Pancasila KJRI New York, menyambut kehadiran Ketua Komnas Perlindungan Anak Dr. Seto Mulyadi, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Kak Seto, dalam acara bertema “Berbagi Cerita dengan Kak Seto” yang diselenggarakan bagi keluarga dan anak-anak Indonesia yang berdomisili di New York akhir pekan lalu. Penampilan Kak Seto pada pagi hari itu disambut dengan penuh antusias, baik oleh anak-anak maupun kalangan orang tua. Pada bagian pertama acara, anak-anak yang hadir diajak Kak Seto untuk bergembira bersama dengan bernyanyi bersama, mendengarkan dongeng, menyaksikan pertunjukan boneka dan atraksi sulap, sementara pada bagian kedua diisi presentasi dan diskusi bertema “Interaksi Ibu dan Anak di Era Global”. Dalam paparannya kepada para orang tua, Kak Seto menyayangkan sistem pendidikan di Indonesia saat ini yang lebih menekankan pada pengembangan otak kiri (logika, matematika dan hapalan). Selain itu kurikulum pendidikan yang kurang memihak pada anak, menjadikan anak tidak lagi memiliki waktu untuk bermain dan mengeksplorasi kreativitasnya. Di era global ini juga masih saja terjadi kekerasan terhadap anak baik secara fisik maupun psikologis, serta makin berkembang juga kekerasan oleh media khususnya melalui tayangan-tayangan televisi. Melalui gambar-gambar ilustrasi yang menarik, Kak Seto dalam presentasinya menekankan bahwa pada dasarnya semua anak cerdas, unik, otentik, dan tidak dapat dibanding-bandingkan, serta pada dasarnya semua anak senang belajar. Oleh karena itu, kecerdasan anak tidak dapat hanya dilihat dari sisi akademis, mengingat IQ bukan segala-galanya, tapi ada juga creativity quotient (CQ), social quotient (SQ), dan emotional quotient (EQ) atau lazim disebut sebagai multiple-intelegensia. Orang tua yang kuatir anaknya tidak dapat bersaing di era global, sering memaksakan anak-anaknya untuk mengikuti sekolah sejak usia dini. Namun sayangnya, metode pendidikan yang diberikan tidak memperhatikan perkembangan psikologis dan kemampuan anak. Anak-anak yang berprestasi cemerlang memiliki kemungkinan untuk terlalu cepat ‘habis’ masa waktunya apabila terlalu dipaksakan untuk bersekolah. Untuk itu, kak Seto menghimbau agar orang tua dapat memahami hak anak dan menjalin komunikasi secara efektif. Acara yang dihadiri umumnya anggota Dharma Wanita Persatuan KJRI, PTRI dan Forum Perbankan Indonesia di New York ini berlangsung dengan meriah dan interaktif. Beberapa saran yang diberikan Kak Seto, cukup praktis untuk diterapkan dan mendapatkan tanggapan yang positif. Kak Seto yang 25 tahun lalu pernah menulis artikel mengenai “sindrom anak Deplu”, menawarkan solusi home-schooling bagi anak-anak yang saat kembali dari mengikuti orang tuanya bertugas di luar negeri, belum dapat mengikuti beberapa muatan kurikulum pendidikan di Indonesia. Baik orang tua maupun anak-anak tampak sangat menikmati program yang berlangsung selama 2 jam tersebut. Pengabdian dan konsistensi Kak Seto di dunia anak, khususnya di Indonesia, memang harus diakui belum ada tandingannya. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|


Gema tarian Ketjak Anak-anak membahana di ruangan Pancasila KJRI New York, menyambut kehadiran Ketua Komnas Perlindungan Anak Dr. Seto Mulyadi, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Kak Seto, dalam acara bertema “Berbagi Cerita dengan Kak Seto” yang diselenggarakan bagi keluarga dan anak-anak Indonesia yang berdomisili di New York akhir pekan lalu.